Info Aktual

BPTP Bali Dukung Pengembalian Kejayaan Sorgum di Bumi Panji Sakti

Denpasar - Sorgum memiliki potensi besar untuk dikembangkan di wilayah Kabupaten Buleleng Bali. Konon sorgum pernah menjadi primadona di kabupaten ini, terbukti dari sejarahnya nama Buleleng sendiri adalah nama lokal dari tanaman sorgum di daerah ini. Sampai saat masyarakat lokal pun masih mengenal sorgum sebagai tanaman “Buleleng” selain disebut juga sebagai tanaman "jagung Gembal”.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng I Made Sumiarta,  bukti kejayaan sorgum di Kabupaten Buleleng dapat dilihat  pada patung Singa Ambara Raja yang  berada di pusat kota Singaraja. Pada salah satu tangan yaitu tangan kanan Patung Singa Ambara Raja memegang malai sorgum. “Terkait sejarah sorgum di Buleleng tersebut, Pemda Buleleng ingin mengembalikan kejayaan sorgum tersebut” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng optimis bahwa kejayaan sorgum di Buleleng pada zaman pemerintahan raja Panji Sakti dulu, akan dapat dikembalikan. “Kami apresiasi kepada BPTP Bali yang telah ikut  memfasilitasi pengembangan sorgum di Buleleng. Dengan sentuhan inovasi dan kerja keras kami yakin Buleleng akan menjadi sentral penghasil sorgum di wilayah Indonesia Bagian Timur. Apalagi diperkuat dengan pernyataan Bapak Menteri Pertanian kita yang telah memproklamirkan pengembangan sorgum untuk wilayah Indonesia bagian timur”, jelasnya. 

Komitmen Kepala Dinas pertanian untuk mengembangkan sorgum di Buleleng diperkuat juga oleh laporan dari Koordinator BPP Kecamatan Gerokgak, Buleleng yang hadir saat itu. Beliau mengatakan bahwa untuk weilayah Kecamatan Gerokgak sendiri di tahun 2020 telah dikembangkan sorgum di Desa Sangalangit dan Patas. "Selanjutnya akan diperluas lagi di tahun 2021 dari dana APBN seluas 26 hektar dan  itu sudah kami distribusikan ke masing-masing PPL untuk mendampingi”, jelasnya.

Sementara itu Kepala BPTP Bali I Made Rai Yasa ditemui saat melaksanakan panen bersama dengan Kadis Pertanian dan jajarannya pada hari Jumat (26/2), menyampaikan bahwa sorgum yang dipanen hari itu adalah varietas Super 2 yang merupakan produk dari Badan Litbang Pertanian melalui Balit Serelia Maros. Dimana menurutnya Balit Serelia Maros ini merupakan produsen varietas benih-benih unggul tanaman serealia di Indonesia. “Kami sangat mendukung komitmen Pemda Buleleng untuk menjadikan sorgum sebagai pangan masa depan, dan ke depan kami akan mencoba beberapa varietas sorgum lainnya lagi hingga diperoleh varietas unggul yang paling ideal dan adaptif untuk dikembangkan di daerah Buleleng ini”, jelasnya.

Peneliti BPTP Bali I Nyoman Adijaya selaku pendamping demplot melaporkan hasil ubinan sorgum di lokasi Demplot sorgum super 2 sangat menggembirakan dari dilihat dari produksi malai, sebesar 6 ton  malai per/ha, terlebih lagi potensi berangkasannya mencapai 51 ton/ha. “Berangkasan ini berpotensi besar sebagai sumber pakan ternak", ujarnya.

Dalam kesempatan panen bersama tersebut Ketut Wijana sebagai petani sorgum mewakili petani Desa Sangalangit mengaku sangat senang melihat hasil panen dari Sorgum Super 2 ini, akan tetapi karena kendala  angin di lokasi pada musim penanaman sedangkan habitus tanaman sorgum Super 2 ini sangat tinngi yang mencapai empat meter bahkan lebih, menjadi kendala karena tanaman sorgumnya banyak yang rebah saat menjelang panen. Dirinya mengarapkan ke depan BPTP Bali bisa mencarikan solusi yang tepat untuk varietas sorgum di yang paling cocok untuk di daerah mereka” tambahnya.

Bimbingan Teknis dan Bincang-Bincang Bersama Penasehat DWP Kementerian Pertanian RI

Hari Jumat, (11/12). Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Pertanian RI, Ibu Drg. Hj. Ayunsri Syahrul Yasin Limpo disertai DWP dari Eselon 1, Eselon 2 dan 3 menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan acara bincang-bincang yang bertempat di BPTP Bali. Tema yang di usung adalah “Peran istri dalam membina kesehatan keluarga di era pandemi Covid 19”.

Kepala BPTP Bali didampingi Ketua DPW BPTP Bali Ibu drh. Desak Made Diyah Sulasmini, beserta ibu-ibu perwakilan DWP lingkup UPT Vertikal Kementerian Pertanian di Bali, memberikan sambutan hangat atas kedatangan Ibu Ayunsri beserta rombongan yang hadir. Kepala BPTP Bali juga memperkenalkan Taman agro inovasi dan display teknologi pertanian yang ada di dalamnya.

Kepala BPTP Bali Dr. I Made Rai Yasa menyampaikan bahwa perekonomian masyarakat di Bali sebagian besar bergantungan dari pariwisata. Namun karena adanya pandemi Covid 19 menjadikan pariwisata di Bali menjadi melemah. Dirinya mealaporkan bahwa banyak yang dulunya kerja di sektor pariwisata kini melirik pertanian sebagai tumpuan hidup. “Selama masa pandemi ini banyak pegawai hotel yang datang ke BPTP Bali meminta pelatihan tetang pemanfaatan pekarangan, syuran hidroponik dan teknologi pertanian lainnya” ucapnya.

Senada dengan itu Ibu Ayunsri dalam sambutannya menyampaikan merasa antusias dan memberikan apresiasinya kepada ibu-ibu DWP dalam usaha membantu penyediaan pangan keluarga di masa pandemi ini. “Bali mengandalkan sektor pariwisata namun pariwisata tidak akan jalan jika tanpa pertanian”. Ucapnya.

Ibu Ayunsri juga berpesan kepada Ibu-ibu DWP daerah agar di masa pandemi ini tetap menjaga kesehatan diri dan keluarga serta mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah. “Acara-acara dharma wanita yang sudah ada dan yang ditetapkan oleh dharma wanita di Kementerian Pertanian tetap dijalankan saja seperti apa yang diturunkan ke daerah. Kegiatan lebih banyak di sektor sosial banyak ketemu, silahturahmi. Apabila memang pandeminya di suatu daerah sudah masuk zona merah acara sebaiknya dilaksanakan secara virtual melalui webinar-webinar dan bimbingan teknis online. “Mari kita tetap sama-sama mempererat silaturahmi kita”. Ujarnya.

Setelah memberikan arahannya Ibu Ayunsri berkenan melaksanakan penyerahan benih tanaman sayuran dan buah kepada perwakilan Kelompok Wanita Tani, Organisasi Wanita A'isyiyah, Perwakilan dari Guru Sekolah, dan Ibu rumahtangga di Lingkungan Kantor BPTP Bali. Setelah itu dilanjutkan dengan acara panen sayuran hidroponik, ikan nila di taman Agro Inovasi BPTP Bali.

Di tengah-tengah acara dilaksanakan bimtek tetang tehnik mencangkok tanaman yang disampaikan dan diperagakan oleh penyuluh Pertanian BPTP Bali.

Pertanian Ke Depan Tidak Saja untuk Kemandirian Pangan Tetapi untuk Kadaulatan Pangan

Denpasar – Hari Kamis (25/2) Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi disela-sela waktunya sebelum bertolak dari Bali menuju Jakarta, menyempatkan waktu untuk mengunjungi BPTP Bali.  Agenda utama beliau ke Bali adalah, dalam rangka koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI yang sedang melakukan pemeriksaan laporan keuangan seluruh Satuan Kerja (Satker) yang mengelola anggaran Kementan di Bali. 

Dalam kunjungannya yang sangat singkat Wamentan juga menyempatkan diri melakukan panen jagung Varietas Bima 20 URI di Taman Agro Inovasi BPTP Bali dan melakukan penyerahan bantuan benih tanaman sayuran kepada perwakilan dari Kelompok Wanita Tani Griya Nuansa Pratama Jimbaran, dan Gerakan Ketahanan Pangan Keluarga (Gertapak) Asyiyah Bali.

Setelah melakukan penyerahan Benih tanaman sayuran beliau melakukan diskusi dengan seluruh Kepala UPT Lingkup Kementan di Bali. Dalam diskusinya Beliau menyampaikan perihal hasil pertemuanya dengan Ketua BPK dan Anggota Komisi IV DPR RI. “Saya coba memberikan penjelasan kepada BPK terutama Ketua IV BPK  RI yang hadir tadi, pesan yang saya sampaikan kepada beliau untuk mensinergikan laporan-laporan kita terutama sekali soal sapi yang di Jemrana yang menjadi perhatian mereka” selain tentunya soal memperbaiki laporan keuangan.

Selain itu Wamentan juga menyampaikan apresiasinya kepada para kepala UPT Kementan di Bali “saya senang sekali dan mengapresiasi  kawan-kawan pertanian, yang bekerja keras mendukung pembangunan pertanian di Bali meskipun terjadinya  pandemi dan turunnya kunjungan wisatawan di Bali.  Disampaikan juga bahwa pertanian secara nasional bisa menyumbang APBN sebesar 16,4 persen dan ini merupakan prestasi bagi pertanian. Jadi saya harapkan ke depan pertanian bukan hanya bisa menjadi Food Resilience (Kemandirian Pangan) tetapi bisa menjadi kedaulatan pangan” ujarnya.

Peneliti BPTP Bali Amati Perkembangan Kambing Boerka di Tabanan

Kabupaten Tabanan merupakan satu-satunya kabupaten di Bali secara nasional yang masuk dalam peta pengembangan ternak kambing. Kabupaten Tabanan telah memperoleh bantuan ternak kambing Boerka yang sebanyak 100 ekor pada tahun 2019, dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak Bogor yang diserahkan melalui BPTP Bali.
 
Kambing Boerka merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer dengan Kacang. Tujuannya adalah untuk memperoleh kambing jenis baru (Boerka) yang cepat besar seperti kambing Boer, dan memiliki sifat yang adaftif terhadap lingkungan yang kritis serta prolifik, mampu menghasilkan banyak anak seperti kambing Kacang.
 
Kamis, 26 Nopember 2020 Tim Pendampingan Ternak kambing BPTP Bali melakukan pengamatan dan pengawalan perkembangan kambing Boerka di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Selain melakukan penimbangan dan pengukuran tubuh untuk melihat perkembangannnya juga dilakukan pengamatan terhadap hijauan yang dikonsumsi baik pada saat musim hujan ataupun musim kemarau.
 
Menurut drh. I Nyoman Bagus Suyasa, M.Si (Peneliti BPTP Bali) sekaligus penanggungjawab kegiatan pengembangan ternak kambing, saat ini perkembangan kambing Boerka nampak menunjukkan hasil yang menggembirakan, terlihat dari perkembangannya sudah mencapai 167 ekor, terjadi peningkatan populasi 67% selama 1 tahun. "Mudah-mudahan ke depan ternak kambing boerka ini bisa berkembang dengan baik dan memberi manfaat yang besar buat peternak" ucapnya.

Mengupas Inovasi Teknologi Peternakan dari Lontar Bali Kuno

Denpasar - Bali terkenal dengan tradisi dan budayanya yang adiluhung. Salah satunya adalah tradisi pencatatan ilmu dan pengetahuan dalam bentuk manuskrip lontar. Berbagai jenis pengetahuan dalam catatan kuno ini perlu digali ulang agar dapat diaplikasikan dalam konteks kekinian. Pada lontar tersebut berisikan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang pernah ada dan berkembang di masyarakat Bali pada masa lampau. Informasi yang ada di dalam lontar dapat dikembangkan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material saat ini serta di masa mendatang. Salah satu pengetahuan dari lontar yang masih lestari dan dimanfaatkan secara turun temurun oleh masyarakat Bali adalah pemanfaatan berbagai jenis tanaman herbal untuk pengobatan tradisional yang lebih dikenal dengan lontar usada.

Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa berbagai jenis tanaman obat memiliki fungsi sebagai antimikroba patogen dan bahkan antioksidan. Berdasarkan hal tersebut peneliti BPTP Bali A.A Ngurah Badung Sarmuda Dinata berinisiatif menggali manfaat beberapa jenis tanaman obat yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam bidang pertanian saat ini. Menurut Dinata dari sekian banyak lontar usada yang ada di Bali yang telah dibacanya diperoleh informasi bahwa terdapat pengulangan penyebutan tanaman obat yakni Trikatuka.

Trikatuka adalah nama 3 jenis tanaman obat yang terdiri dari kesuna (bawang putih= Allium sativum L), jangu (dringo= Acorus calamus L.) mesuwi (mesoyi=Massoia aromatic Becc.). Hasil penelusuran ini kemudian ditindak lanjuti olehnya melalui kajian pemanfaatan mikroba rumen dan agen defaunasi sebagai probiotik pada sapi bali pada tahun 2020. Dengan pengkajian ini diharapkan akan diketahui manfaat tanaman obat ini sebagai antimikroba pathogen dalam upaya membuat kandidat probiotik khusus untuk ternak ruminansia. “Setelah diamati ternyata ekstrak tanaman obat ini ternyata mampu menekan populasi mikroba pathogen yang terdapat dalam cairan rumen sapi Bali” ungkapnya.

Disebutkan pula bahwa penambahan ekstrak tanaman obat ini mampu menghilangkan cemaran bakteri pathogen dalam waktu 3 hari pada cairan rumen yang difermentasi. Cairan rumen yang bebas bakteri pathogen ini kemudian dicampurkan dengan ekstrak tanaman sumber agen defaunasi dengan formula tertentu untuk diaplikasikan pada ternak sapi Bali. “Formula konsorsium mikroba rumen dengan agen defaunasi ini diberi nama prodef”.

Lebih lanjut di tahun 2020 Dinata mengkaji manfaat Prodef pada 20 ekor ternak sapi Bali. Sapi-sapi yang dijadikan sampel diberikan pakan rumput gajah dan tambahan prodef selama enam bulan. Alhasil pertambahan bobot badan sapi meningkat 22,35-60,59%, bahkan ada yang mencapai 2 kali lipat dibandingkan yang tanpa diberi prodef. Ini menunjukkan bahwa penggunaan tanaman obat trikatuka pada kandidat probiotik berperan efektif dalam meningkatkan efisiensi kecernaan pakan. ”Untuk memperoleh hasil yang benar-benar lebih valid perlu dilakukan dukungan lebih banyak penelitian lanjutan secara terus menerus sampai lokal genius warisan leluhur ini nantinya bisa dikembangkan menjadi inovasi baru dalam bidang pertanian” jelasnya menambahkan

Komitmen Cegah Korupsi dan Tingkatkan Transparansi Kementan

Jakarta - Dalam beberapa bulan terakhir Kementerian Pertanian mendapat apresiasi dari berbagai pihak atas capaian kinerjanya dan bahkan menorehkan penghargaan yang membanggakan. Hal ini disampaikan plt Inspektur Jenderal Bambang di Jakarta (29/11/2020). Kinerja kementan meningkat pesat dan berhasil memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional maupun penyerapan tenaga kerja. Dalam hal pengadaan barang dan jasa, Itjen Kementan telah memberikan Assurance dan Consulting secara Independen dan Obyektif melalui Reviu dan konsultasi, sehingga Unit Eselon I sebagai Pengelola Program dapat melaksanakan pengadaan Barang dan jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan transparan.
 
LKPP memberikan penghargaan terhadap proses pengadaan barang dan jasa paling transparan, dan Menpan RB secara khusus juga telah mengakui sistem IQFast yang digunakan Badan Karantina Pertanian, sebagai 45 inovasi pelayanan publik terbaik 2020 di Indonesia. "Kementan dibawah komando Pak Mentan SYL terus melakukan penataan dan inovasi, agar proses-proses kegiatan kian transparan, akuntabel dan mudah diakses publik, arahan menteri sangat tegas bekerja sesuai target, sesuai SOP dan jangan ada yang korupsi, bekerja tulus meningkatkan kesejahteraan petani, terus untuk wujudkan Indonesia maju," jelas Bambang.
 
Bambang juga menambahkan terobosan Mentan untuk melakukan digitalisasi dan modernisasi pertanian, dilakukan secara bertahap dan dimulai dari kantor pusat Kementan.
"Terbangunnya Agriculture War Room (AWR) perlahan menjadi bagian solusi pertanian kita di masa depan. Semua data pertanian terkoneksi dan akan memudahkan monitoring kegiatan. Kamipun mendapat keuntungan dapat melaksanakan tugas lebih efektif sebagai pengendali internal," ujar Bambang.
 
Terkait tuduhan beberapa pihak belakangan ini, kami menyampaikan terimakasih kepada segenap elemen masyarakat yg telah menyampaikan masukan/kritikan karena menjadi bahan untuk segera diklarifikasi dan ditindaklanjuti. Bambang mencontohkan adanya aduan masyarakat 2 minggu terakhir ini langsung menugaskan kepada Inspektur terkait, sesegera mungkin menurunkan audit dan ternyata semua proses pengadaan yang dituduhkan tidak benar. Audit menemukan proses pengadaan barang dan jasa telah melalui sistem LPSE sesuai ketentuan. "Kami selalu merespon cepat setiap ada informasi masyarakat. Memitigasi resiko dan pengawasan internal terus dilakukan sejak perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan," tegasnya.
 
*Memperkuat Transparansi dan Keterbukaan*
 
Secara terpisah, Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan menambahkan Kementan terus berinovasi, bahkan yang terakhir Komisi Informasi Pusat (KIP) menilai sebagai Kementerian paling informatif di Indonesia, dengan skor nyaris sempurna 97,99."Keterbukaan informasi, transparansi, dan penyempurnaan sistem layanan publik menjadi keharusan. Tekad Mentan SYL menjadikan pertanian yang kian maju, mandiri dan modern telah dimulai dari ruang pelayanan publik. Dipastikan kita makin baik dalam melayani," tegas Kuntoro.
 
Penghargaan Keterbukaan informasi ini juga melengkapi capaian bidang kehumasan Kementan, yang sebelumnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga menetapkan Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai kementerian terbaik dalam mengelola informasi dan komunikasi publik. Ketetapan tersebut melalui serangkaian proses penelitian oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika dan Informasi Komunikasi Publik (Puslitbang Aptika dan IKP Kominfo) selama tahun 2019.
 
Kuntoro menyampaikan tantangan sektor pertanian saat ini begitu kuat, namun Mentan SYL mampu menunjukkan ketangguhan ketahanan pangan di tengah suasana pendemi. Sektor pertanian tidak terganggu bahkan paling baik dari sektor lain.
 
Sejauh ini SYL berhasil menghidupkan kembali program-program strategis yang memperkuat sendi pertanian nasional seperti infrastruktur pertanian, KUR, dan mekanisasi pertanian.
 
Sumber : Kementan 

Santri Milenial Bali Berlatih Menyusun Formulasi Pakan Untuk Ternak Kambing

Denpasar - Mulai tanggal 28-30 Januari P4S Hidayah Bali yang difasilitasi oleh Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu-malang menyelenggarakan pelatihan Tematik Formulasi Pakan Ternak Kambing yang bertempat di Kelompoktani Matahari Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti.

Hari ini Jumat (29/1) giliran Ni Luh Gede Budiari Spt, MPt (Peneliti BPTP Bali) sebagai narasumber tentang 1). Pengenalan Hijauan Pakan Ternak, 2). Pakan Konsentrat untuk Ternak Kambing, 3). Menyusun Formula Ransum dan Manajemen Pemberian Pakan Kambing.

Terlihat 32 orang peserta yang merupakan santri milenial dari Kabupaten Tabanan, Kabupaten Buleleng, dan Karangasem, sangat antusias dan bersungguh mengikuti materi yang disampaikan. Selain teori juga diberikan praktek langsung pembuatan silase dan penyusunan formula ransum ternak kambing.

BPTP Bali Selenggarakan Bimtek Inovasi Jagung di BPP Banjarangkan-Klungkung

Klungkung- Selasa (24/11) telah dilaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Inovasi Jagung yang bertempat di BPP Banjarangkan-Klungkung serta diikuti oleh penyuluh dan petani di wilayah BPP Banjarangkan-Klungkung.

Kabid Program dan Evaluasi Distan Kabupaten Klungkung I Made Urdaya saat membuka acara menyampaikan bahwa bahwa dari FGD yang telah dilaksanakan diketahui potensi dan permasalahan yang ada di petani. "Mari bersama BPTP Bali belajar bagaimana menggali potensi dan permasalahan serta mencari pemecahannya" ujarnya.

Senada dengan itu I Nyoman Geria selaku koordinator BPP pun menyampaikan hal yang sama, dirinya mengajak semua penyuluh BPP Banjarangkan bersama petani untuk belajar mecari solusi dari permasalahan yang dihadapi. "Bimtek inovasi jagung kali ini merupakan tindak lanjut dari identifikasi yang telah dilakukan sebelumnya", tambahnya.

Bimtek dilanjutkan dengan pemaparan materi tetang kondisi komoditas jagung di Kabupaten Klungkung serta teknis budidaya jagung oleh I Made Sinom (Penyuluh Distan Kabupaten Klungkung).

Selanjutnya I Nyoman Adijaya (Peneliti BPTP Bali) menyampaikan materi tentang inovasi-inovasi hasil kajian BPTP Bali dan teknis budidaya jagung yang baik.

Menurut Adijaya belum ada varietas jagung yang memiliki semua sifat unggul jagung. "Setiap varietas jagung memiliki keunggulan masing-masing. "Jika ingin memproleh produksi jagung tinggi tanamlah jagung hibrida, namun budidaya jagung hibrida agar berproduksi baik harus dibudidayakan secara intensif", ujarnya.

Adijaya juga menjelaskan inovasi tentang cara tanam jajar legowo 2:1 untuk jagung dan rekomendasi pemupukan Balitbangtan untuk jagung di Kecamatan Banjarangkan.

Sebagai pemateri terakhir Kepala BPTP Bali, menyampaikan tentang pemanfaatan jerami jagung untuk pakan ternak sapi dan permasalahan penyakit serta pengobatan penyakit ternak sapi yang ada di wilayah Banjarangkan-Klungkung. Menurutnya jerami jagung sangat baik untuk pakan ternak sapi karena memiliki nilai gizi yang tinggi. " Hasil penelitian kami pemberian lima puluh persen jerami jagung manis pada ternak sapi mampu meningkatkan bobot berat badan harian sapi sampai 0,56 kg/hari", jelasnya.

Rahasia Sukses Petani di KPI Antapan Panen Cabai Disaat Harga Tinggi  

 

Denpasar - Tingginya harga cabai saat ini disebabkan rendahnya pasokan cabai, sedangkan kebutuhan akan cabai tetap bahkan meningkat. Hal ini umumnya disebabkan karena sulit untuk memproduksi cabai pada musim penghujan atau cabai yang ditanam petani diawal musim hujan belum berbuah.

Berbeda dengan petani di lokasi Kawasan Pertanian Berbasis Inovasi (KPI) di Desa Antapan, Baturiti Tabanan. Saat ini malah mereka sedang asiknya memanen cabai. Alhasil harga cabai yang mereka perolehpun cukup tinggi yaitu Rp. 60.000 - Rp 65.000.

I Kadek Santiana (petani) mengaku dirinya menanam cabai pada musim kemarau yaitu bulan Mei -Juli. "Berkat dukungan embung sebagai penampung air yang kami buat di lahan, kami bisa menanam cabai pada musim kemarau" jelasnya.

I Kadek Santiana juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada BPTP Bali karena telah membina dirinya dan anggota kelompok lainnya dalam hal Inovasi teknologi melalui program KPI. "Awal dimulainya program KPI kami menanam cabai target pasar kami adalah hotel dan restaurant, akan tetapi pada kondisi lesunya pariwisata akibat pandemi Covid-19 ini cita-cita itu belum bisa diwujudkan. Namun kami tetap bersyukur walaupun tidak dijual ke hotel namun kami tetap mendapat harga tinggi" ujarnya.

Sementara itu I Nyoman Adijaya (Peneliti BPTP Bali) sekaligus penanggung jawab kegiatan KPI di Bali menjelaskan hasil identifikasi dan penetapan komoditas unggulan program Kawasan Pertanian Berbasis Inovasi di Desa Antapan-Baturiti-Tabanan menetapkan cabai kecil sebagai salah satu adalah komoditas unggulan.

Dijelaskan pula dengan pemanfaatan air embung pada bulan Mei -Juli tahun 2020 telah dikembangkan tidak kurang dari 5 hektar cabai kecil tersebar di 4 kelompok tani binaan BPTP Bali. " Panen cabai sudah dimulai sejak tanaman berumur 4 bulan setelah tanam setiap 1 minggu sekali (petik merah). Beberapa petani bahkan ada yang sudah panen ke 17 kali" jelasnya.

Menurut Adijaya, dengan penanaman pada musim kemarau waktu panen terjadi saat musim hujan seperti saat ini, dan kemungkinan besar petani akan memperoleh harga cabai yang bagus. Dengan memanfaatkan embung rata-rata petani di sini mampu menanam cabai seluas 5-15 are", ucapnya menambahkan.

 

Petani Subak Gadon III Tabanan Berkomitment Kembangkan Bawang Merah

Pekaseh subak Gadon III pada acara Bimtek Bawang Merah yang diselenggarakan oleh BPTP Bali, bertempat di Wantilan Pura Dalem Adat Beraban, Kediri-Tabanan pada hari Selasa (24/11), mengatakan komitmennya untuk bertanam bawang merah secara berkelanjutan. "Kami harap mendapatkan pendampingan dalam berbudidaya bawang merah dengan inovasi teknologi yang dimiliki BPTP Bali" sebutnya.

Pekaseh juga menceritakan, pengalamannya dan anggota subak dalam bertanam bawang merah. "Kami sudah menanam bawang merah namun masih konvensional yakni ditanam pada sisa singgang padi berjarak tanam 28x28 cm (sesuai caplak padi). Kendala yang kami dialami selama ini berupa OPT seperti ulat daun, kerdil dan layu, daun menguning dan mengering sehingga hasil tidak optimal, hasil panen yang tersimpan dominan hampa sehingga tidak memperoleh benih yang sesuai untuk musim tanam" jelasnya.

Bimtek bawang merah selain dihadiri anggota subak dan BPTP Bali hadir juga Koordinator Penyuluh BPP Kecamatan Kediri dan PPL wilbin Subak Gadon III, sales exective PT Panah Merah dan PT. Rumah Bio Indonesia.Materi yang disampaikan oleh narasumber dari BPTP Bali dibagi 2 sub bahasan, teknis dari komponen budidaya yang ada dan OPT utama bawang merah.

Dr. Ni Made Delly Resiani (Peneliti BPTP Bali) selaku penanggungjawab Bimtek mengatakan bahwa petani Subak Gadon III sangat antusias dalam menyampaikan kesungguhannya untuk bertanam bawang merah. "Mereka ingin BPTP Bali dapat mendampingi secara optimal. Selanjutnya sebagai bagian dari acara Bimtek kami lakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung penanaman bawang merah yang dilakukan petani" jelasnya.

 

Subcategories

Subcategories